Kamis, 23 Juni 2016

REALITAS PENDIDIKAN INDONESIA

UINSA Newsroom, Sabtu (14/5/2016); Hak untuk mendapat pendidikan bagi semua kalangan agaknya masih sebatas impian. Sebab tidak sedikit anak bangsa yang terpaksa putus sekolah, salah satunya akibat terkendala biaya. Padahal, pendidikan yang bertujuan mencerdaskan bangsa menjadi kewajiban pemerintah yang telah diamanatkan dalam UUD. Berkaca pada keresahan inilah Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (DEMA FTK) mengadakan Simposium Pendidikan bertema ‘Jeritan Anak Bangsa Ditengah Hiruk Pikuk Pendidikan Nasional’ di Gedung Sport Center and Multipurpose UIN Sunan Ampel Surabaya, Kamis, 12 Mei 2016.
Simposium yang digelar masih dalam rangka Hari Pendidikan Nasional ini sedianya menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan. Diantaranya, Drs. H. Abd. Halim Iskandar, M.Pd, Ketua DPRD Prov Jatim sebagai Keynote Speaker. Sedangkan sebagai narasumber dalam simposium yaitu Hj. Anik Maslachah, M.Si., Anggota DPRD Prov Jatim, Dr Syaiful Rahman, MM, M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan Prov Jatim, dan Listiyono Santoso, S.S., M.Hum., Pengarang Buku Epistemologi Kiri. Namun dua narasumber, yakni Drs. H. Abd. Halim Iskandar dan Dr Syaiful Rahman berhalangan hadir.
Sementara itu, mewakili jajaran panitia pelaksana, baik Alif Firdaus, Ketua Panitia maupun Gubernur DEMA FTK, Fawaidul Makkiyah dalam sambutannya berharap, kegiatan tersebut dapat memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan. Mereka menaruh harapan besar akan semakin membaiknya sistem pendidikan di Indonesia.
Simposium yang dimoderatori Nur Hakim S.Pd.I yang juga merupakan Demisoner Presiden DEMA UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut dibuka dengan penampilan Teaterikal Hardiknas dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Hastasa. Mengkritisi sistem pendidikan Indonesia yang minim fasilitas serta kacaunya tata nilai yang diajarkan.
Hj. Anik Maslachah dalam kesempatan pertama simposium menyampaikan apresiasi atas kritik konstruksif yang tersirat dalam teaterikal. Beliau menilai, kritik konstruktif tetap penting selama dilakukan secara santun.
“Kami di legislatif memang memiliki kewenangan dalam hal Policy, Budget hingga kontrol regulasi pendidikan. Akan tetapi, semua itu tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa kontribusi semua pihak. Pemerintah, keluarga, instansi pendidikan, swasta, hingga perusahaan melalui CSR yang dimiliki,” jelas Hj. Anik Maslachah.
Tak lupa, beliau juga mengingatkan, peran terbesar tetaplah ada dalam keluarga. Sebab, hampir 70 persen keseharian anak adalah bersama orang tua. Sehingga pendidikan karakter anak embrionya berasal dari keluarga.
“Asumsinya sederhana, andaikata dunia pendidikan kacau sekalipun, jika anak telah memiliki basic pendidikan karakter yang kuat di keluarga maka ia akan tetap tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berkarakter,” terang Hj. Anik Maslachah.
Disamping itu, pandangan kritis terkait realitas dunia pendidikan juga disampaikan Listiyono Santoso. Beliau menjelaskan, tidak satu negara pun di dunia yang tidak menjadikan pendidikan sebagai garda terdepan pembangunan peradaban. Sehingga penting mengelola pendidikan dengan optimal dan sungguh-sungguh.
Beberapa catatan pun diberikan Listiyono mengenai kondisi pendidikan Indonesia. Pertama, bahwa pendidikan Indonesia masih dikelola setengah hati. Terbukti dengan masih minimnya dukungan infrastruktur yang memadai. Kedua, paradigma pendidikan pun belum jelas. Salah satu indikator dengan terus berubahnya kurikulum pendidikan setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan.
“Hampir setiap tahun yang selalu menjadi perdebatan hanyalah pendidikan dalam tataran administratif. Satu-satunya negara yang melibatkan kepolisian dalam ujian cuma Indonesia,” tutur Listiyono. Hal itu dinilai sebagai wujud gagalnya pendidikan. Negara atau bahkan guru tidak cukup yakin bahwa mereka telah mendidik siswanya dengan nilai kejujuran.
“Seseorang itu seharusnya belajar untuk menemukan value, nilai-nilai kehidupan yang berkaitan dengan karakter. Bukan sekedar skor, nilai matematis,” imbuh Listiyono.
Terakhir, beliau juga menilai pendidikan Indonesai berjalan tanpa adanya filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan dianggap idealis tapi tidak realis. Padahal, filsafat pendidikan menjadi penunjuk arah bagaimana pendidikan dibentuk.
“Kita merasa modern jika telah mengikuti gaya dan pemikiran western. Padahal modernisasi berbeda dengan westernisasi. Kita menjadi modern karena atribut, identitas. Atau apa yang kita sebut sebagai karakter,” pungkas Listiyono. (Nur/Humas)


sumber : uinsby.ac.id

MISI PERDAMAIAN DALAM AL-QUR’AN

UINSA Newsroom, Senin (9/5/2016); Festival Qur’ani 2016 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)-Pengembangan Tahfidhul Qur’an (UPTQ) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya kembali diselenggarakan. Sebagai pembuka rangkaian acara, digelar Seminar Nasional dengan tema ‘Al-Qur’an dan Perdamaian Dunia; Re-Aktualisasi Ruh Al-Dakwah dalam Mewujudkan Umat yang Humanis, Sosialis, dan Agamis’ di Gedung Auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya pada Hari Rabu, 04 Mei 2016. Acara dihadiri para santri, siswa, maupun mahasiswa Tahfidzul Qur’an dari seluruh Jawa Timur baik melalui jalur undangan maupun pendaftaran.
Rangkaian selanjutnya adalah kegiatan lomba yang dilaksanakan pada tanggal 14 hingga 15 Mei 2016. Antara lain kegiatan Musabaqoh Tafsiril Qur’an (MTQ), Musabaqoh Hifdhil Qur’an (MHQ), Musabaqoh Fahmil Qur’an (MFQ), Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (LKTIQ), Lomba Tartil dan Hafalan Al-Qur’an (LTHQ), dan ditutup dengan pertemuan Hafidzul Qur’an se-Jawa Timur.
M. Zidni Yusro, Ketua Panitia Festival Qur’ani 2016 menjelaskan, Kegiatan Festival Qur’ani 2016 merupakan program kerja tahunan telah diselenggarakan sejak tahun 2010. Kegiatan tersebut sekaligus bertujuan mempererat silaturahim sesama penghafal Qur’an se-Jatim untuk sharing dan berbagi pengalaman.  Ketua Umum UPTQ, M. Husni Mubarok, juga menyampaikan, telah ada sekitar 300 mahasiswa di UIN Sunan Ampel Surabaya yang menghafal Al-Qur’an. Termasuk beragam prestasi lomba yang telah dimenangkan UPTQ, baik di tingkat provinsi maupun nasional. “Ini sesuai Misi Islam, menyebarkan salam perdamaian lewat Al-Qur’an,” ujarnya.
Selain itu, Prof. Dr. H. Ali Mufrodi, MA, Wakil Rektor III UIN Sunan Ampel Surabaya yang hadir mewakili Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. H. Abd. A’la, M.Ag. menyampaikan, UINSA mengapresiasi lulusannya yang hafal Al-Qur’an 30 juz dengan memberikan beasiswa untuk melanjutkan S2-nya secara gratis. “Jadi, dengan adanya UPTQ, tidak hanya mahasiswa dari Fakultas Ushuluddin dan Filsafat yang hafal Al-Qur’an, tapi fakultas-fakultas umum juga giat menghafal Al-Qur’an,” tutur Prof Ali dalam sambutannya sesaat sebelum pemukulan gong sebagai tanda dibukanya Festival Qur’ani 2016.
Selanjutnya Seminar Nasional dibuka dengan lantunan Syi’ir Tanpo Waton dari Rizal Mumaziq Z, M.H.I. yang juga didaulat sebagai moderator acara. Sebagaimana makna yang terkandung dalam syi’ir, moderator menjelaskan, saat ini banyak fenomena akeh kang apal Qur’an hadits’e seneng ngafirke marang liyane yang biasa dilakukanoleh orang-orang yang iseh kotor ati akale. Hal ini yang kemudian yang menjadikan timbulnya kelompok nonmuslim xenophobia danislamophobia. “Saat ini tantangan eksternal kita adalah munculnya kelompok senophobia dan islamophobia, orang-orang yang punya saja relasi Al-Qur’an dan Hadits untuk membunuh sesama manusia,” ujarnya.
Hadir sebagai narasumber, Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, MA, CBE., cendekiawan muslim Indonesia. Beliau banyak menjelaskan gelombang demokrasi yang terjadi dewasa ini. Menurutnya, salah satu tugas mahasiswa selain beribadah dan menuntut ilmu adalah menjaga perdamaian Indonesia. Oleh karena itu, kampus UIN Sunan Ampel Surabaya yang kini telah memiliki gedung baru juga harus dibarengi dengan sistem pendidikan yang bagus. “Jadi, bangunan kampus bagus, sistem pendidikan bagus akan mengangkat harkat martabat. Tempat untuk menimba ilmu itu harus yang menimbulkan semangat,” jelas mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah tersebut.
Menurut Prof. Azyumardi Azra, inti pokok pesan Al-Qur’an yang berisi tentang perdamaian tersebut adalah untuk seluruh alam, tidak perorangan atau sekelompok orang saja. Kekacauan yang kerap terjadi adalah karena memaknai Al-Qur’an hanya sepotong-sepotong. Oleh karena itu, ia berharap para penghafal Al-Qur’an saat ini tidak hanya menghafal tapi juga mampu memberi pemahaman dan menjelaskan makna Al-Qur’an  yang sebenarnya pada masyarakat luas dalam mewujudkan perdamaian tersebut.
“Terus keluarkan pemikiran dari Al-Qur’an untuk realisasi Islam rahmatan lil alamin. Inilah istimewanya Al-Qur’an, dapat ditafsirkan terus-menerus sesuai perkembangan. Tetap pegang teks dan tetap pertimbangkan konteks,” ujar pria kelahiran 1955 tersebut.
Masih kaitannya dengan Gelombang Demokrasi yang melahirkan perubahan, Pemateri kedua, Prof. Dr. KH. Ali Moschan Moesa, M. Si., cendekiawan NU, mengingatkan, agar tidak hanya terfokus pada perubahan, tetapi juga persepsi yang ditimbulkan. Menurutnya, Islam ialah salama(Keselamatan, red)Dalam konteks ini, yang diselamatkan bukan golongan muslim saja, tetapi rahmatan lil alamin(Rahmat bagi seluruh alam)Bintang kecil di langit yang biru. Bintang ada di waktu siang atau malam? Kalau malan persepsi yang banyak terjadi dalam masyarakat.am, kenapa langitnya masih biru? Nah, lagi-lagi persepsi,” jelasnya memberi perumpamaan lain terkait kesalah
Prof. Ali Moschan Moesa juga berpesan agar Islam tidak hanya di ucapan tetapi juga perilaku. Mengingat masih banyaknya oknum yang menjadikan Islam hanya sebagai pengakuan dan bahkan topeng di balik kepentingan-kepentingan. “Yakinkan dalam hati, lisankan, amalkan. Muslim sekarang banyak tetapi Islamnya tidak hakiki,” pungkas mantan anggota DPR RI tersebut. (Nin/Humas)

sumber : uinsby.ac.id

PANITIA UM - PTKIN RESMI BUKA PENDAFTARAN

UM-PTKIN Newsroom, Rabu (4/5/2016); Setelah sukses menggelar Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN), UIN Sunan Ampel Surabaya kembali memotori seleksi penerimaan mahasiswa perguruan tinggi. Selasa, 3 Mei 2016, melalui Press Conference yang digelar di Ruang Pelayanan Satu Atap Gedung Twin Tower A, Panitia Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) secara resmi membuka pendaftaran yang telah dimulai sejak 1 Mei - 3 Juni 2016.
Press Conference ini sekaligus menjadi bentuk sosialisasi kepada para calon mahasiswa yang tertarik dan berminat melanjutkan studi di PTKIN untuk segera mendaftarkan diri sedini mungkin.
“Saya menyampaikan terima kasih atas dukungan teman-teman media. Dalam hal ini telah sangat  membantu kami melalui pemberitaannya. Semoga kerjasama baik ini terus terjalin,” tutur Prof H. Abd A’la, M.Ag., Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya dalam sambutan pembukaan Press Conference.
Selanjutnya, untuk penjelasan teknis pelaksanaan, Prof A’la diwakili Dr. H. M. Syamsul Huda, M.Fil.I, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan. Didampingi Dr Lilik Hamidah, S.Ag, M.Si, Ketua Pokja Humas UM PTKIN dan Ahmad Fathan Aniq, S.Si, MA, Sekretaris UM PTKIN. Dr Syamsul Huda menjelaskan, setelah melalui masa pendaftaran, para calon mahasiswa akan melaksanakan ujian yang dilakukan selama dua hari, tanggal 14- 15 Juni 2016. Hasil ujian ini akan diumumkan pada 18 Juli 2016. Materi yang diujikan pada tanggal 14 Juni 2016 meliputi Tes Potensi Akademik (TPA) dan Academic Attitude, Kebahasaan dan Ke-Islaman. Selanjutnya, pada tanggal 15 Juni 2016 meliputi materi IPA dan IPS.
Calon mahasiswa yang hendak mendaftar harus memenuhi sejumlah persyaratan, diantaranya lulus tahun 2014, 2015 dan 2016 dari satuan pendidikan MA/MAK/SMA/SMK/Pesantren Muadalah atau yang setara dan memiliki ijin dari Kementerian Agama (Kemenag) RI. Lulusan tahun 2014 dan 2015 harus sudah memiliki ijazah. Sementara lulusan tahun 2016 harus mempunyai Surat Keterangan Lulus dari Kepala Sekolah/ Madrasah yang dilengkapi dengan pas foto terbaru yang bersangkutan dan ditandai cap madrasah/sekolah. Syarat selanjutnya adalah memiliki kesehatan yang memadai sehingga tidak menganggu kelancaran proses pembelajaran di PTKIN.
Terkait rincian alur pendaftaran, terhitung mulai tanggal 1 Mei hingga 2 Juni 2016 pukul 17.00 WIB, calon peserta membayar sebesar Rp. 150.000 (seratus lima puluh ribu rupiah) untuk pembelian user id dan pin di Bank BNI (dapat melalui teller BNI, SMS Banking, ATM BNI atau Keagenan BNI). “Biaya seleksi yang dibayarkan tidak dapat ditarik kembali dengan alasan apapun,” imbuh Dr Lilik Hamidah menegaskan.
Selain itu, dijelaskan pula terkait pelaksanaan ujian yang terbagi menjadi tiga kelompok ujian. Diantaranya, Kelompok ujian IPA bagi peminat Program Studi Bidang Sains dan Teknologi. Materi ujian yaitu TPA, Academic Attitude, Kebahasaan, Ke-Islaman dan IPA.
Kelompok Ujian IPS bagi peminat Program Studi Bidang Sosial, Humaniora, Keagamaan. Materi ujian terdiri dari TPA,Academic Attitude, Kebahasaan, Ke-Islaman dan IPS. Serta kelompok Ujian Campuran bagi peminat Program Studi Bidang Sains dan Teknologi, Bidang Sosial, Bidang Humaniora dan Bidang Keagamaan, materi ujiannya yakni TPA,Academic Attitude, Kebahasaan, Ke-Islaman, IPA dan IPS.
Adapun kuota yang tersedia pada tahun ini sebanyak 35.006 mahasiswa, sementara prodi yang ditawarkan sebanyak 1.027, tersebar di 55 PTKIN se-Indonesia.
“Khusus UIN Sunan Ampel Surabaya, berdasarkan jumlah pendaftar kami melihat tingkat peminat yang cukup tinggi. Ditambah lagi, jurusan dan Prodi di UIN Sunan Ampel juga semakin beragam, baik yang umum maupun keagamaan,” terang Dr. Syamsul Huda menanggapi pertanyaan awak media mengenai tren peningkatan calon mahasiswa yang mendaftar ke UIN Sunan Ampel Surabaya. (Lukman/Humas PTKIN).

REFORMASI PENDIDIKAN YANG INOVATIF DAN KOMPETITIF

UINSA Newsroom, Senin (2/5/2016); Seperti yang rutin digelar, awal Mei selalu menjadi momentum menarik dalam dunia pendidikan. Hal ini tentu tidak lepas, karena setiap tahun pada tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Seperti halnya yang pagi ini digelar di Halaman Gedung Twin Tower UIN Sunan Ampel Surabaya, Senin, 2 Mei 2016. Momen tersebut menjadi semakin menarik karena untuk  kali pertama kegiatan serupa digelar di halaman gedung yang baru saja diresmikan April lalu.
Mengangkat tema, “Ayo Kerja, Inovatif, dan Kompetitif” peringatan yang juga bertepatan dengan hari lahir salah seorang pahlawan nasional, Ki Hajar Dewantoro ini berlangsung khidmat. Tokoh bangsa yang kini dikenal dengan sebutan Bapak Pendidikan Indonesia. Sebab melalui buah pemikirannya, Ing Ngarso sing Tulodo, Ing madya Mangun Karso, dan Tutuwuri Handayani, menjadi benih bagi tumbuhnya pendidikan di Indonesia.
Selain beliau, tokoh lainnya yang juga memiliki andil besar dalam dunia pendidikan yaitu Moh Syafei, penggagas pendidikan keterampilan melalui pendirian pusat pendidikan INS Kayu Tanam di Sumatera Barat. Pusat pendidikan yang kemudian hari menjadi dasar pengembangan sekolah vokasional dan kejuruan di Indonesia.
Prof. Dr. H. Ali Mudlofir, M.Ag, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang pada kesempatan tersebut didaulat sebagai inspekstur upacara dalam penyampaian sambutan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohammad Nasir mengatakan, Peringatan Hardiknas bukan hanya untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantoro dan tokoh pejuang pendidikan lainnya. Lebih dari itu, semangat Hardiknas diharapkan mampu merefleksikan beragam upaya yang telah dan sedang dilakukan guna meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.
“Reformasi Pendidikan Tinggi merupakan suatu keniscayaan pada saat ini, ketika kita menghadapi beragam tantangan luar biasa dalam skala lokal, nasional, maupun global,” tutur Prof. Ali Mudlofir membacakan sambutan Prof. Mohammad Nasir.
Sebab, lanjut Prof Mohammad Nasir dalam sambutannya, melalui Pendidikan Tinggi dipersiapkan SDM Iptek yang akan bersaing dalam pasar kerja nasional maupun internasional, serta memenuhi beragam tempat kerja. Sehingga penyelenggaraan pendidikan pun harus disesuaikan dengan kompetensi yang digunakan di tempat dan masa dimana lulusan pendidikan berada. Termasuk hadirnya teknologi informasi komunikasi dan jaringan, serta masyarakat ekonomi berbasis pengetahuan, menjadikan perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan tinggi tidak dapat ditawar lagi. “Ada banyak pekerjaan yang perlu kita lakukan, yang pada dasarnya mereformasi penyelenggaraan pendidikan tinggi kita-deregulasi,” ujar beliau.
Pekerjaan tersebut seperti halnya, penyediaan pendidikan yang fleksibel dan berorientasi pada siswa dan pangsa pasar, perubahan kurikulum, penyediaan dosen, guru besar, dan tenaga kependidikan yang profesional, pendidikan yang mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi, model bisnis pendidikan yang baru, orientasi pada keterampilan yang teruji dan berdaya saing, pengembangan bidang  ilmu strategis,  revitalisasi  kelembagaan,  kemampuan pendidikan tinggi untuk menghasilkan riset dan inovasi yang kompetitif, dan lain-lain.
Di akhir, Prof Mohammad Nasir juga mengingatkan, pendidikan tinggi tidak mungkin dijalankan pemerintah seorang diri. Akan tetapi dibutuhkan kerjasama antar institusi pendidikan tinggi, institusi riset, unit pemerintah, sektor industri, dan swasta serta pemangku kepentingan lainnya. Dimana tujuan akhirnya adalah mewujudkan cita-cita pembangunan pendidikan tinggi Indonesia dengan semangat reformasi pendidikan yang telah digulirkan para tokoh pendidikan untuk menjalankan upaya peningkatan kualitas pendidikan tinggi secara berkelanjutan.
“Akhirnya, saya ucapkan selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional kepada semua pimpinan perguruan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa, serta komunitas pendidikan tinggi di seluruh tanah air. Semoga upaya kita dapat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi di tanah air,” ujar Prof Mohammad Nasir memungkasi sambutan. (Nur/Humas)


sumber : uinsby.ac.id

MENUJU WORLD CLASS UNIVERSITY

UINSA Newsroom, Selasa(26/4/2016); UIN Sunan Ampel Surabaya meresmikan gedung Twin Tower yang berlokasi di Jalan A. Yani 117 Surabaya pada Selasa, 26 April 2016. Peresmian dilakukan Presiden Islamic Development Bank (IDB), Dr Ahmad Mohamed Ali Al Madani bersama Menteri Agama Republik Indonesia, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof H. Abd A’la, M.Ag. Disaksikan perwakilan Rektor dan Dekan UIN/IAIN/STAIN/PT dari seluruh Indonesia, Direktur dan Kepala Kantor Bank di Jatim, civitas akademika UIN Sunan Ampel, dan undangan lainnya.
Peresmian Gedung Twin Tower ini merupakan agenda puncak rangkaian acara yang telah digelar sejak 14 April 2016. Rangkaian kegiatan terbagi dalam beragam lomba dan pengembangan akademik berupa seminar dan workshop. Ditutup dengan acara Seminar dan Launching Centre For Teaching and Testing of Arabic (CETTA) di Auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya pada Rabu, 27 April 2016. Disamping itu, peresmian ini juga mengagendakan Seminar dalam Rangkaian Roadshow Sidang Tahunan IDB ke-41, bertema ‘Enhancing Growth and Poverty Alleviation Trough Financial Inclusion’.
Kegiatan serupa yang juga merupakan rangkaian dari soft launching menuju Peringatan UINSA Emas (Hari Jadi ) 50 Tahun diantaranya peresmian Gedung Baru Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) pada 21 September 2015. Selanjutnya pada 28 Oktober 2015, digelar pula peresmian Gedung Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Disamping dua gedung fakultas tersebut, total akan ada tujuh Gedung Fakultas yang akan dibangun. Termasuk sarana Sport Center and Multipurpose, Gedung Serbaguna, Integrated Laboratory, serta sarana dan prasarana lainnya.
Pembangunan sarana dan prasarana akademik di UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut merupakan bagian dari proyek pengembangan dan perbaikan mutu UIN Sunan Ampel Surabaya. Proyek ini adalah hasil kerjasama antara UIN Sunan Ampel dengan IDB dalam proses transformasi UIN yang sebelumnya berstatus Institut (IAIN).
Menara kembar yang menjadi ikon baru UIN Sunan Ampel Surabaya ini dibangun sebanyak Sembilan lantai di masing-masing menara (Twin A dan Twin B) yang saling terhubung di lantai dua. Gedung Twin A merupakan sarana Perkantoran Rektorat. Semenatara Gedung Twin B merupakan sarana perkantoran dan Perkuliahan Pascasarjana.
Prof. A’la mengatakan, pembenahan dalam berbagai aspek perlu dilakukan secara berkelanjutan. Managemen pengelolaan diperkuat sejalan dengan pengembangan sumber daya manusia. Sarana dan prasarana ditambah dan diupayakan sesuai dengan tuntutan dan keperluan pembelajaran dan pendidikan. “Proses pembenahan yang berkesinambungan itu seutuhnya  diarahkan pada visi lembaga untuk menjadi Universitas Ke-Islaman yang unggul, kompetitif, dan bertaraf internasional,” ujar beliau.
Yang tidak kalah penting, menurut Prof A’la, wujud fisik Gedung Twin Towers tersebut juga merupakan gambaran paradigma keilmuan yang mendasari penyelenggaraan pendidikan di UIN Sunan Ampel, Integrate Twin Towers. Dasar keilmuan yang mengisyaratkan dua disiplin keilmuan, keagamaan dan sains, sebagai entitas berbeda yang dikembangkan secara selaras untuk tujuan hidup dan kebahagiaan hakiki umat manusia.
“Untuk itu, civitas akademika UINSA diharapkan bahkan dituntut menjadi intelektual yang memiliki kecerdasan dalam segala aspek, ahli di bidangnya, memiliki keterampilan dan jiwa kewirausahaan yang kreatif dan inovatif,” terang Prof A’la.
Sejalan dengan harapan yang dilambangkan dalam semboyan UINSA “Building Character Qualities For Smart, Pious, and Honourable Nation”. “Kerja keras, komitmen, ketulusan memang menjadi satu-satunya pilihan yang ada dihadapan kita. Kita tidak bisa lagi bernostalgia dengan masa lalu. Kita harus mengharamkan diri untuk bekerja seadanya dan asal-asalan. Kita tidak mungkin lagi ber-comfort zone-ria. Selamat bekerja, semoga sukses dan berkah menyertai kita semua dan UINSA,” imbuh Prof A’la.
Hal senada juga disampaikan Menag RI, bahwa bantuan pembangunan infrastruktur yang digagas IDB terbukti memberi dampak yang luar biasa bagi instansi. Dalam hal ini seperti meningkatkan citra instansi, kepercayaan diri, serta tumbuhnya sense belonging pada institusi. Namun, beliau juga mengingatkan, bangunan fisik tidak akan berarti banyak tanpa diimbangi dengan peningkatan kemampuan akademik yang terarah serta fokus dengan tugas akademisinya. “Tetap ingat posisinya sebagai civitas akademika, bukan politika,” tutur Menag RI disambut riuh peserta.
“Saya berharap dengan semakin lengkapnya fasilitas sarana dan prasarana, kini saatnya bergerak dan berbenah diri meningkatkan kualitas akademik untuk menjadi yang terdepan di Indonesia bahkan dunia. Selamat atas launching. Semoga mampu menjadi langkah lanjutan kearah World Class University, sebagaimana yang kita cita-citakan bersama,” ujar Menag RI memungkasi sambutan pada acara yang juga dihadiri Walikota Surabaya, Dr.(H.C.) Ir. Tri Rismaharini, M.T(Nur/Humas)

FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM UIN SUNAN AMPEL SURABAYA ADAKAN KLINIK ETIK DAN HUKUM

UINSA Newsroom, Senin (18/04/2016); Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya mengadakan Program Klinik Etik dan Hukum (KEH) yang bekerjasama dengan Komisi Yudisial (KY) Republik Indonesia (RI). Kerjasama ini merupakan program untuk menciptakan benih – benih calon hakim yang berintegritas dan berkualitas.
Selaku penanggung jawab dalam Program KlinikEtik dan Hukum FSH UIN Sunan Ampel Surabaya ialah DR. H. Sahid HM, M. Ag selaku Dekan FSH UIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam menjalankan program ini dibentuk suatu kepanitiaan  yang di ketuai oleh DR. Sri Warjiyati, SH., MH dan dibantu oleh Luthfi Anshori, S.HI., MH dan Arif Wijaya, SH., M.Hum yang juga menjadi panitia pelaksana dan mentor bagi para peserta Klinik Etik dan Hukum.
Dalam menindak lanjuti terkait kerjasama antara FSH UIN Sunan Ampel Surabaya dengan Komisi Yudisial RI tentang program KlinikEtik dan Hukum, FSH UIN Sunan Ampel Surabaya mengadakan seleksi bagi mahasiswa untuk mengikuti program pendidikanKlinikEtik dan Hukum. Dari 78 pendaftar, pada akhirnya hanya 40 mahasiswa yang lolos dalam seleksi yang diadakan panitia pelaksana kegiatan pendidikan KlinikEtik dan Hukum FSH UIN Sunan Ampel Surabaya yang dimulai pada tanggal 23 Maret sampai 15 April 2016.
Bu Sri Warjiyati selaku ketua panitia pelaksana program pendidikan klinik etik dan hukum FSH UIN Sunan Ampel Surabaya sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berharap dengan adanya kegiatan ini mampu menjadikan mahasiswa yang mempunyai nilai plus dan menciptakan benih – benih calon hakim yang berintegritas dan berkualitas.
Dilain kesempatan Pak Lutfi selaku salah satu panitia pelaksana dan mentor program Klinik Etik dan Hukum memaparkan, “Program Klinik Etik dan Hukum ini merupakan tahun kedua yang diselenggarakan oleh Komisi Yudisial. Dalam hal ini, FSH UIN Sunan Ampel Surabaya merupakan salah satu diantara 15 Universitas yang dipercayai oleh Komisi Yudisial RI untuk mengadakan program Klinik Etik dan Hukum. Program ini dimulai dari bulan april sampai bulan november dan program ini akan ditutup secara nasional oleh Komisi Yudisial RI dengan pengadaan Jambore Nasional”.(naf/Humas UINSA)

sumber : uinsby.ac.id

REKTOR TANDA TANGANI MOU DENGAN THE MUSLIM COLLEGE LONDON

UINSA Newsroom, Senin (18/4/2016); UINSA Surabaya kini memiliki hubungan kerjasama dengan lembaga pendidikan tinggi di Inggris (United Kingdom-UK). Kerjasama ini terjalin setelah ditandatanganinya nota kesepahaman (MoU) dengan The Muslim College, London pada hari Kamis, 14 April 2016. Bertempat di kampus The Muslim College di Creffield Road London, nota kesepahaman ditandatangani oleh Prof. Dr. H. Abd A’la, M.Ag., Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya dan Dr. Mohamed Benotman, Direktur The Muslim College London, disaksikan pula oleh Ahmad Fathan Aniq, MA, Kepala Pusat Layanan Internasional UINSA. Penandatanganan ini dilakukan oleh Rektor UINSA seusai menghadiri The Third Annual Conference of BRAIS (British Association for Islamic Studies) 2016 di Senate House University of London.
The Muslim College merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam pertama di Inggris yang didirikan pada tahun 1987. Lembaga pendidikan tinggi ini membuka Program Pasca Sarjana untuk tingkat S2 (MA, M.Phil) dan S3 (Ph.D). Selain itu The Muslim College juga menawarkan Program Imamship dan Graduate Certificate in Islamic Studies.
Nota kesepahaman antara UINSA Surabaya dengan The Muslim College London berisi tentang komitmen kedua belah pihak untuk melakukan kerjasama dalam bidang pendidikan dan penelitian. Rektor UINSA mengharapkan ke depan civitas akademika UIN Sunan Ampel Surabaya dapat memanfaatkan kerjasama ini untuk pengembangan sumber daya manusia UINSA, bisa dalam bentuk pertukaran dosen, staf dan mahasiswa ataupun joint research. Civitas akademika berpeluang melakukan penelitian kolaboratif internasional dengan The Muslim College dalam bidang pengembangan toleransi beragama dan kajian multikultural. Hal ini mengingat London merupakan kota dengan penduduk yang heterogen, terdiri dari berbagai macam etnis dan agama. Selain itu, London saat ini menjadi pusat pengembangan kajian ekonomi Islam di Barat. Sehingga kerjasama dengan The Muslim College diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk kajian terkait di London. (afa/Humas)

sumber : uinsby.ac.id